Keluarga Besar Alumni SMA Negeri 1 Sidareja Cilacap

yang jauh mendekat, yang dekat merapat, yang merapat jadi hangat, yang hangat tambah semangat

Dirgahayu Bangsaku

Salam Kemerdekaan!!!

Sebentar lagi kita merayakan HUT Kemerdekaan RI ke 63. Mari kita tundukan kepala sejenak untuk mengucap syukur pada Allah SWT yang atas Kehendaknya kita bisa hidup dalam hangatnya selimut kemerdekaan. Mari kita sejenak pejamkan mata untuk mengheningkan cipta mendoakan para pejuang yang telah gugur dalam upaya mencapai kemerdekaan itu. Mereka telah rela berjuang hingga tetes darah terakhir dan kitalah yang menikmati jerih payah perjuangan mereka.

Seperti biasa, untuk menyambut HUT Kemerdekaan itu, bangsa kita merayakannya dengan cara dan bentuk yang beranekaragam. Upacara bendera tergolong agenda wajib. Upacara diselenggarakan secara serentak di kantor-kantor dan sekolah-sekolah mengikuti detik-detik proklamasi. Selain mengenang jasa para pendiri bangsa yang gugur sebagai pahlawan, upacara tentu dimaksudkan untuk memperbaharui dan menjernihkan kembali semangat bangsa kita mengisi kemerdekaan itu.

Makna kemerdekaan itu dinamis. Di mata generasi pejuang, merdeka berarti berhasil mengusir penjajah dari bumi pertiwi. Sehingga bangsa kita berdaulat atas tanah air dan segala isinya. Untuk itu mereka rela berkorban jiwa dan raga.

Bagi kita generasi masa kini, arti kemerdekaan lebih dari itu. Di alam kemerdekaan orang harus bermartabat. Anak-anak bangsa tidak hanya cukup memperoleh sandang, pangan, dan papan yang layak, tetapi juga memperoleh kebebasan bersuara dan berpendapat, bebas dari ketakutan dan berbagai bentuk intimidasi dan penindasan.

Martabat bukanlah pemberian. Martabat adalah nilai akumulatif dari capaian kita dalam mengatasi masalah dan memenuhi kebutuhan hidup kita. Jika ingin bermartabat, kita dituntut untuk bekerja lebih keras, berpikir lebih cerdas, dan berkarya lebih kreatif dalam mendayagunakan sumber-sumber hidup yang tersedia di bumi pertiwi.

Merdeka berarti juga mampu mengatasi masalah sendiri, mandiri. Pada usia ke 63 tahun ini, bangsa kita masih punya pekerjaan rumah yang rumit dan kompleks. Kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan sosial misalnya tergolong agenda klasik yang belum juga teratasi.

Kebodohan adalah hal lain yang menjatuhkan martabat. Kebodohan tidak selalu berkaitan dengan lemahnya capaian dalam pendidikan formal. Kegandrungan bersekolah untuk memperoleh gelar akademik pun termasuk kebodohan. Demi gelar akademik yang menterengjalan pintas dihalalkan.

Mengutip kalimat yang sering diucapkan oleh suami saya dalam meeting-meeting nya bahwa bodoh adalah sebuah pilihan. Tetapi apakah kita memilih untuk bodoh? Tentu saja jawabannya tidak. Setelah 63 tahun Indonesia merdeka, marilah kita refleksi diri, untuk melepaskan nobat/tahta bodoh yang mungkin telah berkerak di pikiran dan jiwa kita. Tetapi terkadang alangkah bahagianya saya ketika saya merenung dan menyadari bahwa saya telah berkata bodoh, saya telah berbuat bodoh dan saya telah nampak sangat bodoh. Mengutuk diri sendiri itu adalah reflek pertama saya, tapi sejenak kemudian saya bersyukur karena saya masih diberi kemampuan untuk menyadari kebodohan dan saya masih diberi kesempatan untuk lari menjauh dari kebodohan yang telah saya lakukan dengan satu tekad terpekik di hati saya bahwa “SAYA HARUS PINTAR”.

Terkait dengan masa SMA, tanggal 13-16 bulan Agustus tahun 1997 saya diberi kesempatan untuk mengikuti Lomba Siswa Teladan di Kab. Ciacap. Melihat tanggalnya tentu saja terkait dengan Hari Kemerdekaan RI. Betapa untuk menyambut kemerdekaan yang begitu syahdu, kami harus berjuang mengalahkan semua energy negatif dan harus tunjukan bahwa kami adalah manusia cerdas yang layak hidup di bumi Indonesia yang telah merdeka. Good Lord!!!Rasanya terlalu hiperbola atau malah narsis?? Tapi itulah…selama 4 hari kami di karantina dan hampir tiap malam dicekok dengan segala kalimat untuk membangkitkan nasionalisme kami.

Saya masih ingat sampai saat ini, kalimat salah seorang tentor katanya, jangan pernah merasa merdeka kalau kamu adalah bodoh! Sangat biasa kedengarannya, tapi buat saya dalam sekali maknanya. Silahkan teman-teman memaknainya. Lalu ada satu hal menarik yang membuat kami agak kelabakan. Dalam waktu 4 hari kami harus mampu menyanyikan lagu bernafas kemerdekaan, yang benar-benar baru kami dengar. Pada malam kemerdekaan, kami laksana elva secoria choirs menyanyikannya dengan jiwa yang menggelegar dan tingkat kepercayaan diri maksimal. Saya masih ingat liriknya, dan pada kesempatan ini ingin saya share untuk teman-teman.

Bangsa yang merdeka

Masyarakat sentosa

Membangun negeri dengan kekuatan sendiri

Merdeka yang punya arti

Hidup dengan mandiri

Cinta bangsa cinta karyanya

Kita pilih buatan buatan Indonesia

Jangan mengeluh

Berpaculah dengan waktu

Ayo kerja

Sisihkan karya

Tantangan di muka kita

Gali kekayaan alam

Majulah rakyat

Tegak, bebas dan merdeka

Jayalah Indonesia

Sekali lagi mari kita bersyukur atas segala yang telah kita terima dan nikmati di alam merdeka ini. Tidak ada hal yang akan membuat hidup kita lebih hidup selain FREEDOM! Freedom from want, freedom from stupidity, freedom from afraid and freedom of action!

Untuk semua alumni SMA N 1 Sidareja, MERDEKA!!! i luv u all

Tanti, Fisika (1993-1996)

7 responses to “Dirgahayu Bangsaku

  1. Sarkim August 20, 2008 at 1:45 pm

    Excellent !!!
    Wah energic woman tak pernah kehabisan semangat.

  2. tanti August 21, 2008 at 8:39 am

    terimakasih bun…
    terimakasih, pakkk…
    semangat dari teman2 alumni juga selalu menyertaiku.

    YOU MAKE MY SPIRITS ROSE

  3. Y Sugiyanto August 21, 2008 at 4:20 pm

    I luv u isteriku, tapi Ayah bingung apakah istriku sengaja berbodoh ria atau karena apa. Istriku bilang di smansasa (SMA Negeri Satu-satunya) Sidareja tahun 1993-1996, tetapi istriku bercerita tentang keterlibatan dalam pemilihan siswa teladan di Cilacap pada 13-16 Agustus 2007. Lier akh.
    Terlepas dari itu semua, Ayah harus sampaikan bahwa sebenarnya istriku punya bakat dalam menulis, jadi biar syah jadi orang merdeka, kembangkanlah, gunakan media apapun untuk belajar dan belajar.
    Pada saat tertindas dan atau teraniaya, semangat untuk merdeka memang berkobar, tetapi janganlah setelah merdeka malah jadi kehilangan semangat untuk mengisi kemerdekaan.
    Kemajuan bangsa ini tidak harus tergantung pada orang-orang pintar dan atau penguasa, sesuai dengan bidang yang kita kuasai, kita boleh dan harus mengisi kemerdekaan. Bangsa ini memang tidak boleh memilih untuk bodoh, dan itu semua membutuhkan semangat juang untuk pinter yang tidak minteri.
    Selamat istriku, salam untuk rekan-rekan semua, aja lali karo mendoan. Semoga istriku juga ingat dengan sosok kawan Ayah Bpk Tuyan sing nang aring Kedungreja.

    Wass

  4. tanti August 22, 2008 at 7:44 am

    I LUV U TOO, MY HUSBAND!!!

    terimakasih ya untuk komentar, masukan, koreksi dan terlebih dari itu adalah untuk kebebasan berekspresi berpendapat mengeluarkan pikiran serta bertindak, dorongan, semangat dan perhatian yang Ayah berikan selama ini. you’re the answer to my pray from up above. Amin

    terimakasih untuk koreksinya (acung jempol 4 untuk ketelitian Ayah—wajar lah, hampir tiap hari periksa BAPP—). mestinya tahun 1995. maaf ya teman2, atas kesalahan ketiknya.

    salam untuk rekan2 alumni akan aku sampaikan dan tentang pak tuyan, aku juga tidak akan pernah melupakannya. kalau mood datang, aku pasti akan buat tulisan mengenai pak tuyan. tunggu saja. ok!

  5. smansasidareja August 22, 2008 at 11:30 am

    wah wah wah, dua jempol buat tante tanti dan om sugiyanto, benar2 pasangan yang harmonis, wish me to be like u🙂

  6. tanti August 22, 2008 at 2:33 pm

    wah, rasanya terlalu berlebihan menilai kami harmonis. any way thanks untuk pujiannya.

    tapi satu hal yang harus diingat bahwa keharmonisan sepasang manusia atau sebuah keluarga tidak bisa dinilai hanya dari sesuatu yang terlihat atau dari kata2/kalimat yang terucap diantara pasangan tersebut. hanya hati dan perasaan masing2 yang bisa merasakan apakah mereka harmonis atau tidak.

    sekali lagi terimakasih ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: