Keluarga Besar Alumni SMA Negeri 1 Sidareja Cilacap

yang jauh mendekat, yang dekat merapat, yang merapat jadi hangat, yang hangat tambah semangat

03 Desember 2000 – 21 Maret 2005, Sangai-Tumbang Kalang, Kabuau-Parenggean, Sampit-Kalimantan Tengah

03 Desember 2000 – 21 Maret 2005, Sangai-Tumbang Kalang, Kabuau-Parenggean, Sampit-Kalimantan Tengah

 

Ketika itu saya bekerja di Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit, dimana saya tinggal di komplek perumahan yang berada di areal perkebunan. Perumahan tempat saya tinggal letaknya kira-kira sekitar 150-an km dari ibukota kabupaten, Sampit. Jarak ke ibukota kecamatan sekitar 20 km. Lokasi masih sangat sepi dan bisa dibilang terisolasi, bagi orang yang terbiasa hidup di Jakarta dan sekitarnya. Tapi bagi saya bekerja di lokasi yang masih sangat primitif (baca: perawan) dengan bertemu ratusan karakter manusia yang berbeda setiap hari, adalah sebuah tantangan dan sebuah kenikmatan tersendiri yang sulit ditemui.

 

Jangan pernah bermimpi bisa beli burger, fried chicken, wedges potatoes dan makanan2 sejenis ketika berada di camp. Mau makan bakso saja, harus tunggu tukang bakso keliling yang hanya lewat pada hari Rabu dan hari Sabtu. Mengerikan bukan??? Tapi itulah seni tertinggi yang saya rasakan ketika saya hidup di camp. Nilai lebih di camp adalah, betapa setiap orang adalah saudara kita. Betapa setiap hari kita mendapatkan senyum tulus dan tegur bersahaja dari orang-orang disana. Perasaan sepenanggungan, seperantauan membuat perasaan saling membutuhkan dan memiliki tumbuh seirama karenanya. Indah sekali.

 

Setamat kuliah dari perguruan tinggi negeri di Bogor, saya nekat mendaftarkan diri menjadi Asisten Bina Plasma disebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit swasta. Pendaftaran dan tes dilakukan di kampus. Tapi ketika wawancara, pihak HRD menyatakan maaf, ini untuk laki-laki. Penempatan jabatan tersebut di Sangai-Tumbang Kalang, Sampit-Kalteng.

 

Esoknya, saya nekat datangi kantor pusat perusahaan tersebut di daerah Lebak Bulus, menemui Direktur, bernama Bp. Bambang WEN. Saya bilang, saya merasa tertantang dan saya pasti mampu. Kita bertaruh saja, perusahaan berangkatkan saya ke Kalimantan, bila sudah tiba disana, sebelum tiga bulan saya terbukti tidak mampu beradaptasi, tidak mampu menjalankan tugas dan tanggungjawab yang diberikan pada saya, maka saya akan pulang dengan biaya sendiri. Waktu itu, jiwa muda saya masih meletup-letup (saya jadi teringat lagu Darah Muda nya milik Bang Haji Rhoma Irama). Saya yakin seratus persen, pasti akhirnya tantangan saya diterima.

 

Hari itu, saya merasa sangat spesial, karena keberanian saya menantang, saya diwawancarai langsung oelh tiga pimpinan sekaligus. Deputi Dir I Bp. Priyo Wibowo, Deputi Dir II Bpk. Y. Sugiyanto. Saya di tanya, apa motivasi kamu, ingin bekerja di Kalimantan? Dengan sangat jujur saya menjawab, saya ingin naik pesawat! Hahhh?! kata mereka hampir bersamaan. Mereka bengong dan pasti berpikir ini anak konyol apa sakit jiwa??? Saya tegaskan lagi, saya belum pernah naik pesawat, dengan bekerja di Kalimantan saya pasti akan naik pesawat, betul tidak Pak? Lho kok malah nanya?

 

Tidak ada pertanyaan berarti siang itu di ruang Direktur yang sangat dingin. Akhirnya Sang Direktur bilang, ok lah kalau kamu ngotot, sekarang apa orang tua kamu akan mengijinkan? ?? Saya jawab, saya kan sudah dewasa, hidup saya, sayalah yang menentukan. Hebat! kata salah satu dari mereka. Berapa nomor telepon rumah orang tua kamu? Saya jawab, 0280-5241XX. Loudspeaker dibuka. Tuuuutt…tuttt. ..tutttt. Waktu itu jam menunjukan pukul 11.15an WIB, saya yakin cuma ada almarhum Bapak di rumah, yang waktu itu sudah lumpuh sebelah akibat serangan stroke. Jantung saya tiba-tiba berdegup kencang sekali, saya tidak bisa membayangkan reaksi Bapak jika mendengar saya akan ke Kalimantan.

 

Halo, selamat siang….Benar saja. Suara Bapak ada diseberang sana. Dengan sangat halus dan sopan serta diplomatis tingkat tinggi, Sang Direktur menjelaskan siapa beliau, apa maksud dan tujuan, kemudian mereka masuk pada pembahasan serta berakhir dengan kesimpulan dan saran. Saya mendengarkan dengan baik dan perasaan tak karuan, betapa bijak dan tak kalah diplomatis, Bapak memberikan jawaban-jawaban atas pertanyaan Sang Direktur. Restu dari Bapak saya dapatkan siang itu. Daddy, you are my superstar!!!

 

Sepanjang mereka berbicara tadi, saya berubah menjadi seorang Tanti yang sangat kerdil, cengeng dan bernyali ciut. Tangan saya menjadi sangat dingin, lidah saya kaku, leher saya terasa tertimpa balok-balok es dan bibir saya tak mampu berucap, tanpa saya sadari, kelopak mata saya sudah dipenuhi bulir bening kerinduan, kecintaan dan kebanggaan saya akan sosok seorang Bapak. Kelopak ini tak mampu lagi membendung bulir yang kian banyak, akhirnya menetes, mengalir ke pipi. Suasana berubah dari yang penuh semangat menjadi super melakolis. Saya benci suasana seperti ini. Saya benci ketika orang lain melihat saya menangis. Saya tidak bermaksud mendatangkan rasa iba. Saya menangis karena kekaguman saya yang mendalam pada Bapak saya. Tolong, kalian jangan menatap saya seperti ini. Baik, kita lanjutkan saja Pak, jadi saya diterima kan…Tiga pasang mata pria di hadapan saya menatap dengan tatapan yang saya sendiri tidak mampu mengartikannya. Mungkin bingung adalah kata paling tepat untuk menggambarkan arti pancaran mata mereka. Hahahaha….

 

Jadilah dua minggu setelah pertemuan di Lebak Bulus itu, saya diberangkatkan ke Kalimantan. Wow!!! Borneoooo… …i’m coming!!! Lho Kalimantan kok begini…Sepanjang perjalanan dari Bandar Udara Tjilik Riwut Palangkaraya menuju Sampit (+ 200an km) yang terlihat hanya ilalang, lautan pasir, tanaman perdu dan beberapa desa. Mana hutan belantara yang pohon-pohonnya sebesar dua rentangan tangan orang dewasa? Mana suara burung Enggang yang merdu seperti diceritakan dalam buku pelajaran sekolah maupun National Geograghy yang pernah saya baca??? Dimana…dimana. ..dimana. ..? Ternyata semua itu tinggal sejarah. Kecewa tingkat pertama. Ihiks…Tapi sama sekali tidak menyurutkan semangat untuk menjalankan tugas yang diberikan pada saya.

 

Saya masih tinggal dulu dua malam di Kota Sampit, baru esok lusa saya di antar menuju peradaban sebenarnya. Saya sudah tidak sabar ingin segera menuju lokasi dimana saya akan tinggal. 150 km dari Sampit! Pasti akan lumayan melelahkan. Dengan mobil Daihatsu Taft (Badak), saya di antar menuju peradaban Kalimantan yang sesungguhnya. Ini lebih gila!!! Jalanan hancur, dimana-mana ilalang. Dimanakah perkampungan penduduk??? Dari mana mereka makan, dari mana mereka mendapatkan air?? Apa matapencaharian mereka disini? Mereka yang hidup disini pasti orang-orang aneh. Jadi pelajaran pertama yang saya dapat adalah saya juga harus menjadi orang aneh, agar bisa hidup di sini.

 

Dari kejauhan, terlihat bangunan dari kayu, terdapat antena radio munjulang ke langit, antena parabola, alat-alat berat excavator, buldozer, traktor dan beberapa mobil 4WD (wheel drive), mobil yang paling tepat untuk kondisi jalanan di pedalaman Kalimantan. Saya yakin itulah camp tempat saya akan tinggal. Tiba di camp, saya disambut oleh teman-teman kerja maupun beberapa penduduk sekitar. Mendengar akan ada karyawan wanita dari Jakarta, rupanya menjadi sebuah kejutan yang ditunggu-tunggu buat mereka. Dengan sangat senang dan tanpa menunjukan lelah, saya turun dari mobil, kemudian menjabat satu persatu dari mereka. Lutfiati, sang kasir yang sangat manis yang juga penduduk transmigrasi setempat bertanya, gimana Bu, melelahkan dan primitif ya…Saya langsung jawab, sangat menyenangkan! !! Jangan khawatir, saya suka dan pasti akan sangat suka, bantu saya supaya betah tinggal disini ya.

 

Masuk kamar, wah..ada AC juga rupanya. Saya langsung ambil remote untuk menyalakan AC nya, ow…owww tidak ada reaksi. Imah, pelayan camp menegaskan listrik baru akan dinyalakan setelah jam 17.30, Bu. Hey, ada kamu, o,ya saya lupa membaca peraturan yang ada didekat pintu itu (pintu kamar), makasih ya sudah mengingatkan, kata saya. Dia tersenyum. Hari itu saya menerima banyak senyuman yang sangat indah. Indah sekali.

 

21 Maret 2005, terakhir kali saya menghempaskan badan ke kasur saya di bumi Kalimantan. Melihat langit-langit kamar. Menerawang dan mengingat komentar teman-teman kuliah saya ketika saya berpamitan mau ke Kalimantan. Huh, ngapain ke sana, jauh dari Jakarta (seakan-akan rejeki hanya ada di Jakarta ya), jauh dari peradaban, primitif dan kalimat-kalimat lain yang sangat menciutkan nyali. Tapi, bagi saya semakin mereka berkomentar miring, semakin saya tertantang karenanya. Saya mampu melalui hari-hari di Kalimantan dengan dengan baik. Dari lajang, bertemu jodoh hingga punya anak satu semua terjadi di Borneo. Hari ini, saya harus meninggalkan Kalimantan tercinta, surga kehidupan saya selama + 5 tahun. Suami saya mendapatkan pekerjaan yang mengharuskan berdomisili di Jakarta. Kami harus kembali ke Jakarta.

 

Hatiku sedih

Hatiku gundah

Tak ingin pergi berpisah

 

Hatiku bertanya

Hatiku curiga

Mungkinkah kutemui

Kebahgaiaan seperti disini

 

Sahabat yang selalu ada

Dalam suka dan duka

Sahabat yang selalu ada

Dalam sedih dan bimbang

 

Pergilah sedih pergilah gundah

Jauhkanlah aku dari segala prasangka

Pergilah sedih jauhkan resah Lihat segalanya lebih dekat dan kita akan mengerti

 

Mengapa bintang bersinar

Mengapa air mengalir

Mengapa dunia berputar

Lihat segalanya lebih dekat dan kita akan mengerti.

 

Lagu diatas adalah karya Elva Secoria pada Petualangan Sherina, saya sangat suka dan waktu itu sangat tepat menggambarkan bahasa hati saya.

 

Jangan pernah takut untuk mencoba hal-hal baru yang sama sekali belum kita ketahui. Karena pikiran takutlah yang akan menjegal setiap langkah kita. Bila kita yakin akan sesuatu maka kita pasti akan mampu melakukannya dan meraihnya.

 

Tulisan ini saya persembahkan khusus untuk berlian-berlian hidup saya, Elang-anak saya, Suami saya, alm. Bapak dan Ibu saya.

Terimakasih untuk semua yang telah tercurah.

 

Jakarta, 30 Oktober 2008

Tanti

 

(pengalaman hidup dari temen kita Tanti (96) sebagaimana yang kirim ke milist SMA N1 Sidareja)

 

 

7 responses to “03 Desember 2000 – 21 Maret 2005, Sangai-Tumbang Kalang, Kabuau-Parenggean, Sampit-Kalimantan Tengah

  1. cibungsu January 6, 2009 at 3:04 am

    ada fs ga mbak?

    add akuw yah uwhie_ajah@yahoo.com

  2. Tanti January 12, 2009 at 8:35 am

    sorry banget, aku gak/belum punya fs. nanti kl aku punya, pasti ku add. thanks

  3. rogebon January 12, 2009 at 9:43 am

    great history
    great motivation

    ayoo sapa yang pengen sukses?
    privat aja ke mba tanti

  4. Tommy Rose January 29, 2009 at 4:48 pm

    Tanti,
    Ini adalah “Struggle of life…..”
    kalau mau maju butuh mental kaya Tanti…..
    saya juga pernah merasakan betapa beratnya saat mengangkat taraf hidup dari orang bawah kaya saya…
    saya inget betul ketika mulai masuk SMN2 Sidareja tahun 1988…terkadang kalau sudah butut sepatu dragon fly saya (harga sepatu dragon fly waktu itu Rp 9000) saya wenter biar kelihatan baru lagi…kadang celana saya juga “NGLUNGSUR” dari kakak sepupu saya…kaos kaki…juga nglungsur dari paman saya yang waktu itu sudah SMA..sehingga saya akalin pakai karet pada bagian atas kaos kakinya, kerana terlalu kendor untuk ukuran kaki saya….Selulus SMP…mengingat kondisi financial ortu yang pas-pasan….maka saya putuskan secara pribadi untuk ambil sekolah STM..dan alhamdulillah saya bisa masuk STMN Cilacap….seiring dengan perjalan sekolah di STM…ortu memutuskan untuk mengkuliyahkan saya…..Tom..pokoke kowe kudu kuliyah..men Bapak kerja apa bae sing penting kowe bisa maju…dari pada Bapak mewariskan sawah atau harta bisa entek…nek ilmu kan ora entek tur kowe bisa dihormati wong karena ilmu itu…..
    Kemudian Bapak saya pergi merantau menjadi TKI ke Malaysia ketika saya masih duduk di STM kelas dua sekitar tahun 1992/1993….
    Sebelum lulusan di STM saya sudah stay di Jogja mengikuti bimbel untuk persiapan UMPTN waktu itu tahun 94…namun saya sbg bocah STM sing saben hari ketemunya bongkar Mesin…saya bingung sekali dengan Bimbel matematika, IPA…..wah susah deh kalau kaya gene…..
    akhirnya saya tetap mencoba UMPTN walaupun ngga diterima di perguruan tinggi negeri…lalu saya ndaftar ke IST Akprind Jogja…karena saya dari jurusan Mesin waktu di STM…maka saya masuk Jurusan S-1 Teknik Mesin…..di IST AKprind….hingga wisuda Nov 1999.

    Namun…sewaktu saya masuk kuliyah banyak sekali orang memperdebatkan keluarga saya…”Wong kowe kok arep nguliyahna anak Teknik S-1, mengko ya sawahmu enteng dan tambah mlarat” kata orang2 sekitar….

    Namun Saya, Bokap & Mamaku solid untuk menyekolahkan saya walaupun ditebus dengan segala daya dan upaya…hingga saya lulus di wisuda sebagai wisudawan terbaik ke-2 tahun 1999.
    Selama kuliyah juga saya menjadi dosen asistance dan mendapatkan beberapa kali bea siswa Supersemar, student grant….lumayan buat nambah uang makan…..karena waktu itu biaya hidup di Jogja relative murah…
    Thanks Alloh……Terima kasih Pak, Mak….you are my great life…….

    Setelah wisuda, selang satu bulan saya mendapatkan job di Jakarta…..awal kerja diJKT juga ngga gampang rupanya…..saya sembari ikut kursus Bahasa Inggris dan terus berupaya meningkatkan karir…wis kadung nang jakarta ya nyemplung sisan…
    Hidup dijakarta juga ga gampang…melihat harga rumah yang sangatlah mahal bagi orang kampung seperti saya…bahkan saya dulu berfikir…wong sawaeh wong tuaku didol kabeh..urung ulih nggo tuku umah nang Jakarta……????
    Namun alhamdulillah saya dengan dibantu moril Istriku…bisa mewujudkan impian membeli rumah untuk berteduh di Bintaro Jaya…..

    Dan Alhamdulillah kini saya sudah mempunyai keluarga menikah tahun 2002 dan dikaruniani satu anak laki-laki umur 5.5 th bernama Ahmad Raffi Romanov Sutomo….

    Demikian sharing saya…semoga bisa diambil hikmahnya…mohon maaf karena saya masih jauh dari kesuksesan dibandingan dengan temen-temen lainnya………wong saya cuma anake tani kluthuk yang mencoba memperbaiki taraf hidup…..

    Ayo siapa lage yang punya pengalaman reality…..hidup.

    Regards,
    Tommy Rose

  5. Tommy Rose January 30, 2009 at 3:18 pm

    all,
    kok sepi??? week end pade ngacir apa yah…

  6. jule February 2, 2009 at 2:37 pm

    he eh,,,sepi buangett…
    ato lagi menikmati cuaca ya….

  7. Tommy Rose February 2, 2009 at 3:09 pm

    pada tidur kale…
    abis kehujanan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: